Pohon Sawit

Taksonomi
Divisi : Embryophyta Siphonagama
Kelas : Angiospermae
Ordo : Monocotyledonae
Famili : Arecaceae (dahulu disebut Palmae)
Subfamili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq
Morfologi
Akar
Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Radikula (bakal akar) pada bibit terus tumbuh memanjang ke arah bawah selama enam bulan terus-menerus dan panjang akarnya mencapai 15 meter.
Batang
Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada pertumbuhan awal setelah fase muda (seedling) terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis dan enak dimakan.
Daun
Tanaman kelapa sawit memiliki daun (frond) yang menyerupai bulu burung atau ayam. Di bagian pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di kedua sisinya. Anak-anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua sampai ke ujung daun. Di tengah-tengah setiap anak daun terbentuk lidi sebagai tulang daun.
Bunga dan Buah
Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat
Biji
Setiap jenis kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot biji yang berbeda. Biji dura afrika panjangnya 2-3 cm dan bobot rata-rata mencapai 4 gram, sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. Biji dura deli memiliki bobot 13 gram per biji, dan biji tenera afrika rata-rata memiliki bobot 2 gram per biji.
Penyebaran
Kelapa sawit tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Provinsi Riau memiliki areal perkebunan kelapa sawit terluas dengan 2,89 juta ha pada 2021 atau 19,16% dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di negeri ini.
Habitat
Kelapa sawit dapat tumbuh pada bermacam jenis tanah. Ciri tanah yang baik untuk kelapa sawit diantaranya gembur, aerasi dan drainase baik, kaya akan humus, dan tidak memiliki lapisan padas. Tanaman kelapa sawit cocok dibudidayakan pada pH 5,5 – 7,0. Curah hujan dibawah 1250 mm/th sudah merupakan pembatas pertumbuhan, karena dapat terjadi defisit air, namun jika curah hujan melebihi 2500 mm/th akan mempengaruhi proses penyerbukan sehingga kemungkinan terjadi aborsi bunga jantan maupun bunga betina menjadi lebih tinggi. Ketinggian tempat yang baik untuk ditanam tanaman kelapa sawit yaitu antara 0 – 500 m dpl dengan kemiringan lereng sebesar 0 – 3 %. Media tanam yang biasa dipakai oleh perkebunan kelapa sawit adalah tanah subsoil, karena tanah kering di Indonesia didominasi oleh tanah subsoil yang telah mengalami perkembangan lebih lanjut sehingga pertumbuhan bibit kurang maksimal.
Manfaat
Sabut dan Cangkang
Sabut dan cangkang merupakan produk turunan limbah setelah bagian buah kelapa sawit yang diekstrak menjadi minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Berbagai Manfaat Kelapa Sawit yaitu menangkal efek radikal bebas, memperkuat imunitas tubuh, menjaga kesehatan otak, mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin A, meningkatkan kesehatan jantung
Janjang Kosong
Janjang kosong dapat dimanfaatkan sebagai kompos dan pupuk organik terutama karena kandungan unsur kalium (K) yang sangat penting dalam pertumbuhan kelapa sawit.
Pelepah dan Daun
Pelepah dan daun kelapa sawit juga tak luput dari segudang manfaat. Bagian yang sering dianggap tak penting dan berakhir hanya sebagai limbah ini biasanya hanya ditumpuk di sekitar pohon atau bahkan dibakar. Padahal, studi menemukan bahwa rupanya pelepah dan daun kelapa sawit berpotensi besar untuk digunakan sebagai bahan kompos.
Pohon
Salah satu inovasi dari pengolahan pohon kelapa sawit adalah bahan dasar furnitur. Batang hasil kayu replanting dapat dimanfaatkan sebagai papan laminasi atau Sandwich Laminated Lumber (SLL) untuk keperluan panel lantai, dinding, pengemas, furnitur, dan sebagainya